XI IPA3
Tidak semua peserta lulus
Suzuki Riders F-150 Club (SRFC) Bali menggelar pendidikan dan pelatihan (Diklat). Ini merupakan pelaksanaan ke-5. Diklat berlangsung di Jimbaran, 28-29 April 2012. Pada diklat kali ini tercatat 8 orang calon anggota jadi peserta. Beratnya tes, membuat tidak semua calon anggota lulus dalam diklat ini.
Adapun ujian yang diberikan pada saat diklat meliputi, ujian tulis dan psikotes, tes pengetahuan safety riding, interview, dan pengujian mental dan lisan. Serasa tes kerja saja.
Dalam penutupan diklat dan pengumuman calon anggota baru berhasil lulus 5 calon anggota. Dari 5 orang yang berhasil lulus kualifikasi, 1 orang mengundurkan diri pada saat jurit malam karena mental tidak kuat. Sehingga yang berhasil lulus diklat ada 4 orang yaitu Bayu Nurjaman, Juwena, Dedy, dan Wardi. selanjutnya dilakukan pembacaan ikrar SRFC oleh anggota baru dan diikuti seluruh anggota SRFC.
Menurut ketua panitia, Bayu Kusuma. Diklat SRFC bertujuan untuk mencetak anggota baru SRFC yang lebih loyal kepada organisasi dengan mengutamakan keselamatan berkendara dan taat peraturan lalu lintas.
“Juga melatih mental anggota baru SRFC agar terlatih dalam mengemukakan pendapat sendiri, tidak gampang menyerah dan bisa menghadapi setiap karakter orang yang berbeda,” tegas Bayu dalam imelnya ke klubemplus@gramedia-majalah.com.
Buat yang masih geber motor bermesin 2 langkah wajib buka halaman 11. Di sana ada tes knalpot racing untuk Ninja 150. Tapi yang diuji adalah perbedaan materialnya. Ada stainless steel dan titanum. Silahkan temukan jawabannya, mana yang lebih powerfull di edisi ini.
Tips seputar subtitusi kampas kopling dan panduan oprek noken as sepeda motor berteknologi injeksi juga sudah kami siapkan. Termasuk tips membedakan knalpot asli dan palsu. Parade modifikasi dari gelaran MOTOR Plus Skubek Contezt 2012 juga jadi bahasan khusus. Dari tren hingga profil pemenang coba kami sodorkan.
Buat yang demen balap jangan lewatkan liputan langsung Yuli Haryadi dari Asian Road Racing Championship seri pertama di Sepang, Malaysia. Kelas Asia Dream Cup jadi perhatian khusus dari MOTOR Plus, pasalnya kelas yang dibuat oleh Honda ini menjanjikan penjenjangan pembalap Asia menuju level dunia di Moto3.
Layanan unik bengkel resmi yang berani jemput bola juga kami liput. Ini akan sangat memudahkan konsumen yang hendak melakukan service ringan tapi susah keluar kantor. Asik kan! (motorplus-online.com)
Basic Kawasaki D-Tracker 150 yang Sumo alias Supermoto, dianggap Erick Erlangga kurang menantang ditunggangi. Apalagi sebagai punggawa klub KLX-ers yang berlokasi di Jakarta, Erick masih suka turing ke daerah pelosok juga doyan freestyle. Itu yang membuat pria berbadan langsing ini butuh motor yang siap di segala kondisi.
Asal-muasalnya supermoto dari Kawasaki Motor Indenesia alias D-Tracker ini usung ban on road sebagai identitasnya. Ingin dirombak total Erick. Terutama kaki depan dan belakang. Kini tampil layaknya motor dirtbike dengan ciri-ciri ban tipe pacul dengan lingkar roda depan dan belakang yang beda ukuran.
“Konsep yang saya pilih motor dirtbike macam Honda CRF250 warna merah. Kebetulan warna tersebut pas dengan SNTK D-Tracker tahun 2012 awal yang juga merah. Bisa dilihat pada bagian depan dan belakang. Tapi, kalau ditegesin dari samping, bodi Kawasaki D-Tracker masih jelas. Karena memang tidak banyak diubah selain ganti warna jadi merah khas CRF250,” ujar warga Jl. Skit, No, 28, Sunter Jaya, Jakarta Utara ini.
Dibantu Mas No dan Agung Prasetyo dari rumah modifikasi Rockwell Workshop di Jl. Sumur Batu Raya, Blok A3, No. 2, Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tampang Honda CRF250 bisa dilihat dari pengantian satu set sok depan Yamaha YZ125 berikut peranti lainnya. Bahkan sepatbor depan asalnya merucing khas sumo, sengaja diganti model motorcross CRF250 buat imbangi batok lampu Acerbis Alien dibalik setang.
Tak hanya ubah link arm, posisi ban belakang yang ganti swing arm juga disesuaikan jaraknya. “Terutama bushing arm yang terhubung ke rangka dan yang di as roda belakang. Tujuannya agar posisi rantai dan ban belakang tetap sejajar saat motor dijalakan,” lanjut Erick.
Kelar urusan kaki-kaki, bodi asli D-Tracker yang sudah ganti kelir merah itu perlu penyesuaian. Selain bagian depan, sepatbor belakang CRF250 plus lampu belakang dipasang. Cuma agar bentuknya sejajar dengan cover samping, Erick bilang di bagian sambungan mesti disesuaikan pakai alat pemanas.
Kalau mesin D-Tracker yang sudah alami porting polish, ganti karbu Keihin PWL26 dan pasang knalpot Pro Circuit T4, konstruksinya diperkuat engine guard dari pelat alumunium tebal 4 mm. Keamanannya pun lebih terjamin. (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Slang rem : Hell Performance
Pelek : TK 2.15 dan 1.60
Ban : IRC IX
Gir : SSS
Rantai : TK
Enggak masalah buat harian dan turing!
Suripto dari Ripto’s Bike Custom (RCB), Purwokerto, Jawa Tengah, salah satu builder bergaya streetfighter (SF) dengan ciri khas detail kuat. Perwujudan konsep diterapkan di Honda Mega Pro milik Firman Dwi Nugroho yang juga asal Kota Mendoan itu.
“Tahun ini saya menonjolkan tema tajam dan runcing pada lekuk bodi. Bodi SF yang gendut-gendut saya tinggalkan. Hasilnya ya seperti ini, karakter kuat saya tonjolkan dengan bentuk penuh lekuk dan menyiku,” buka Ripto, panggilan beken modifikator bergaya cool ini.
Makanya ubahan bodi jadi super detail. Itu dia yang bilang, lho. Silakan kasih Komentar. Pertama, hitungan konstruksi bodi. Modifikator cool ini merangkai pola bodi dengan konsep street fighter ala West Jateng Style alias WJS. Namun tetap memakai dua jok. Sehingga masih fungsional buat disemplak boncenger.
“Yang punya motor memang jangkung, tingginya hampir dua meter. Sehingga saya memperhitungkan desain bodi bisa nampak bagus ketika dipakai rider jangkung,” cuap Ripto yang bikin gerai di Jl. Kutaliman, RT1/2, Kedung Banteng, Purwokerto ini.
Ciri desain serba sharp nongol pada semua sektor. Bagian awal, olahan bodi fokus pada dimensi tangki dulu. Bentuk tangki, Ripto hanya mengukur dimensi tempat duduk, dibuat dengan tinggi sekitar 75 cm dari atas tanah.
Terlihat besar memang, tapi jika ditengok dari atas baru ketahuan dimensi tangkinya sebenarnya kecil. “Sengaja dibuat pipih di sisi belakang tangki. Biar enak dikempit kedua paha jika dipakai riding. Mungkin terlihat besar, sebab saya bikin sayap tangki lebar dengan desain menyatu tangki. Seolah kamuflase aja,” jelas modifikator yang gak pernah sepi order ini. Pasar kaleee... (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan : Swallow 110/70-17
Ban Belakang : Swallow 150/60-17
Pelek : Sprint
Setang : Byson
RCB : 0816-4289-149
Modifikasi karya Donny Ariyanto dari Studio Motor, selalu punya benang merah. Cenderung traditional chop, cafĂ© racer, flat track atau paling nggak Jap’s style. Semua aliran itu lebih kepada mempertahankan sasis standar.
Klop saat Bambang dari Semarang menyerahkan Suzuki GS650 miliknya. Wujud aslinya nggak beda jauh dengan hasil customizing Donny ini. Desainnya chopper turing, sok ganda di belakang dengan rake ideal sebagai motor penjelajah. “Dari modal sasis ini kami hanya memolesnya agar tampak lebih fresh,” buka Donny.
Paling utama merombak sedikit sektor sasis tengah menjadi lebih drop seat. Sasis asli GS650 rata dari back bone ke belakang. Hingga perlu sedikit ubahan untuk mendapatkan aroma chopper. “Jadi, bagian itu diturunkan sedikit agar bisa merancang jok berundak dan mengubah riding position ala outlaws,” katanya lagi.
Setelah itu, mereka tinggal mencermati detail dan membuat motor lebih segar. Bagian belakang langsung diubah. Sesuai pakem chopper dengan sok ganda, mereka merancang ‘pedang-pedangan’ sebagai pegangan sepatbor. Mereka lebih sreg memilih desain ini ketimbang rancangan sissybar seperti chopper hardtail.
Setelah itu konsen detailnya. Sok belakang, dipilih milik Sportster. Posisi soknya jelas berbeda dengan standar GS650. Karena lebih landai mengejar tampilan ceper dan drop seat tadi. Di sektor ini, mereka perlu membuat braket untuk pijakan kaki belakang. Dibuat dari pipa tubular kecil agar serasi dengan tampilan klasik motor ini.
Di sektor depan, nuansa chopper makin kentara. Ogah menerap riser tinggi apalagi kontruksi ape hanger. Ia lebih condong pro street jadul yang sederhana dan slim. Pilihan ini termasuk tepat. (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan: Avon Mileage 4,00-19
Ban belakang: Metzeler 150/70-17
Lampu: Aftermarket
Filter Udara: TDR
Kaliper: Nissin
Knalpot: Hand made by Jethot
Painting: By Komet Studio
Maksudnya bukan Ninja yang seorang mata-mata zaman feodal di Jepang itu selingkuh. Tapi, Kawasaki Ninja 250R milik Hadi inilah yang selingkuh. Sport 250 cc 2 silinder milik pria yang tinggal di daerah Latumenten, Jakarta Barat ini serong karena memakai ‘pakaian’ Repsol special edition.
Padahal, ‘kostum’ alias kelir itu identik di pacuan tim Honda Repsol yang berlaga di MotoGP. “Hadi ingin coba sesuatu yang beda. Belum ada Ninja 250 yang aplikasi motif ini. Karena secara desain, coraknya cukup unik,” ujar Aang Sidarwin, modifikator dari Artisis Custom di Jl. Teluk Gong, Jalan V, No. 3, Jakarta Utara.
Selain modifikator, pria yang akrab disapa Sensen ini juga gape dalam urusan airbrush. Maka itu, buat pengarapannya tak perlu oper ke workshop airbrush.
"Berbeda dengan CBR 250R, di Ninja banyak terdapat lekukan dan lubang udara di fairing. Kalau CBR sih lebih datar, lebih mudah,” bilang modifikator 34 tahun itu.
Kelarnya, bodi kembali dilabur cat oranye dari merek yang sama. Oh ya, tulisan yang ada di cover bodi Ninja ini bukan diambil dari sponsor yang nempel di Honda RCV212V. “Tulisan dari part yang dipakai di motor aja,” aku Sensen (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan : Battlax 120/70-17
Ban belakang : Battlax 160/60-17
Setang : KTC
Knalpot : Devils
Artisis Custom : 0857-81563232
Langganan:
Postingan (Atom)




